Berita

Berharap Hoki pada Tahun Babi

Berharap Hoki pada Tahun Babi

Tahun 2018 kita lalui dengan suka-duka. Cukup ba – nyak peristiwa duka mendalam terjadi pada tahun yang menurut penanggalan Cina adalah Tahun Anjing itu. Sejumlah bencana alam melanda Tanah Air, seperti gempa bumi, likuifaksi, dan tsunami. Ribuan orang menjadi korban. Fasilitas ekonomi, termasuk agri – bisnis, pun porak-poranda dan hingga kini belum pulih. Sekadar menyebut contoh adalah hancurnya sarana pembenihan udang (hatchery) di Lampung akibat tsunami akhir Desember. Ketua Asosiasi Pembenih Udang (APU) Provinsi Lampung, Waiso mendata, 84 unit hatchery dari 133 anggota APU di Lampung Selatan rusak berat. Kerusakan ini menyebabkan mereka kehilangan potensi produksi 400 juta benih udang (benur) per bulan. Pemulihan diperkirakan membu tuh – kan waktu sampai enam bulan. Berarti potensi produksi benur sebesar 2 miliar–2,5 miliar ekor yang nilainya puluhan miliar rupiah raib. Akibat kelangkaan benur tersebut, Forum Komunikasi Praktisi Akuakultur memprediksi Indonesia berpotensi kehilangan produksi udang minimal 4.000 ton per bulan. Jika baru pulih dalam waktu 6 bulan, maka potensi kehilangan produksi udang Lampung, Banten, dan Jabar minimal 24 ribu ton.

Nilai ekonominya bisa mencapai ratusan miliar rupiah. Dampak lainnya, se – rapan pakan udang berkurang sampai 6.000 ton/bulan yang berujung menurunnya kinerja industri pakan akuakultur. Para pengusaha itu jelas ingin segera bangkit. Dan me reka tidaklah berharap bantuan gratis dari peme – rintah. Mereka menginginkan pemerintah bersama pemangku kepentingan lainnya bisa menyediakan dana talangan untuk memperbaiki sarana produksi. Tujuan – nya agar posisi Lampung sebagai lumbung udang na – sio nal bisa tetap terjaga karena ini juga bermuara pada perolehan devisa nasional dan perekonomian domestik Indonesia. Bencana lain bagi pelaku agribisnis, khususnya petani adalah anjloknya harga komoditas andalan mereka.

Sawit mengalami harga terendah dalam 12 tahun ter – akhir lantaran stok melimpah di Indonesia dan Malaysia serta berlebihnya produksi minyak kedelai internasional Peni Sari Palupi yang notabene pesaing utama minyak sawit. Perang da – gang antara China dan Amerika Serikat turut memper – buruk keadaan. Syukurlah, dengan melonjaknya ekspor biodiesel dan serapan dalam negeri untuk pelaksanaan program mandatori biodiesel B20, harga mulai terkerek. Harga komoditas hortikultura juga memprihatinkan. Cabai, bawang merah, kentang, dan buah naga mencapai harga di bawah ongkos produksi. Sampai-sampai petani ogah panen karena ongkosnya mahal ketimbang harga jual. Bahkan di antara mereka ada yang membuang hasil panennya di jalanan karena jerih payahnya memelihara tanaman tak terbayar dengan harga jual yang layak. Kementan memang sudah menyiapkan jurus 10 lang – kah agar pasokan dan harga sayuran tetap stabil: yaitu penanaman benih unggul; pengaturan waktu pola tanam; pemberian pupuk organik; aplikasi pestisida yang ramah lingkungan; pascapanen yang baik; hilirisasi dengan industri olahan skala rumah tangga; kemitraan dengan pelaku usaha dan eksportir; membangun tata niaga yang efisien dengan membentuk koperasi; membangun pasar lelang di lokasi, dan mendorong produk masuk ke pasar modern. Kita mengapresiasi langkah pemerintah tersebut. Pada cabai, tampaknya langkah hilirisasi perlu lebih digen – carkan. Pasalnya, dalam menciptakan kestabilan harga, pemerintah mengambil langkah meratakan produksi di berapa daerah baru. Dengan harapan, tidak ada lagi bulan-bulan kurang pasokan.

Namun pengaturan tanam yang masih kurang rapi sehingga masih terjadi pasokan berlebih. Di setiap sentra produksi perlu dihadirkan industri pengolahan skala UMKM untuk menampung kelebihan pasokan. Semestinya, dalam era kemajuan teknologi informasi, bisa diwujudkan data sentral yang mencakup perkem – bangan luas tanam, umur tanaman, kondisi serangan ha – ma penyakit, early warning system kemungkinan terjadi oversuplai atau seret suplai, pergerakan harga seketika (real time). Data ini bisa diakses publik sehingga pelaku usaha antisipatif dengan kondisi terbaru. Kita semua berharap menciptakan lebih banyak hoki selama Tahun Babi Tanah yang diprediksi memberikan peluang bagus bagi bisnis pertanian dan informatika ini.