Berita

Strategi Mengangkat IHSG Dikuartal ke Empat

Jelang memasuki kuartal keempat tahun ini, aksi mempercantik portofolio atawa window dressing sudah mulai tampak. Bahkan, analis mensinyalir aktivitas window dressing mengangkat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam perdagangan kemarin. Kamis (27/9), IHSG naik 0,95% menjadi 5.929,22. Ada window dressing, tapi tidak masif, ujar Kepala Riset MNC Sekuritas Edwin Sebayang pada media, kemarin.

Sementara indeks saham lain di kawasan Asia cenderung merah. Ambil contoh Nikkei 225 Jepang yang turun 0,99% menjadi 23.796,74. Meski begitu, analis ratarata menilai sentimen window dressing menjelang kuartal empat ini hanya akan bertahan sementara, lantaran pelaku pasar merespons pengumuman laporan keuangan emiten kuartal III di Oktober.

Managing Director Samuel International Harry Su menilai, window dressing tak mutlak dilakukan tiap tutup kuartalan. Lebih sering akhir Juni dan Desember, terang dia. Adapun pihak yang kerap melakukan window dressing di antaranya para fund manager dan bahkan emiten itu sendiri. Perbaikan performa produk reksadana menjadi alasan fund manager melakukan window dressing. Sedang untuk emiten, kebanyakan adalah mereka yang punya memiliki banyak utang. Emiten perlu menaikkan harga sahamnya untuk menyesuaikan covenant dari bank, imbuh Harry.

Tertekan Sentimen Suku Bunga
Analis memprediksi, awal kuartal empat pasar saham berpotensi kembali tertekan sentimen suku bunga The Fed, era bunga tinggi dunia, serta perang dagang. Berbagai sentimen ini menjadi pemberat IHSG belakangan ini. Akumulasi sejumlah sentimen tersebut membuat window dressing sepi, meskipun harga sejumlah saham di bursa dalam negeri sudah murah. Karena window dressing biasanya dilakukan saat faktor risiko investasi sudah menurun, jelas Kepala Riset BNI Sekuritas Norico Gaman.

Norico menilai, saat ini investor masih menilai risiko investasi di Indonesia masih tinggi. Investor akan mengambil sikap menahan diri setidaknya hingga akhir Oktober. Edwin mempunyai penilaian senada. Pasalnya, The Federal Reserve diprediksi kembali menaikkan suku bunga di pertemuan Desember nanti. Bahkan, suku bunga AS diprediksi bakal mengalami naik setidaknya tiga kali lagi tahun depan.

Tapi, di balik sentimen tersebut tetap ada peluang. Analis menilai window dressing akan terjadi di akhir tahun. Menilik data historikal, IHSG cenderung menguat di dua pekan terakhir tiap tahun selama 10 tahun terakhir.